PELANGI DI BATAS CAKRAWALA HATI Oleh : Bunda Arsalan

Angin memainkan gorden kamar hotel, menambah dinginnya pagi pertama Isti di Kota Apel itu. Gorden berwarna krem pastel itu seakan-akan menggandeng mesra kain fibrasi putih sepanjang minggu bahkan mungkin sampai bulanan. Menjauh kemudian mendekat kembali pada kaca jendela lebar tempat mereka mengintip siang atau pun menutupi malam yang hendak menerobos masuk ke kamar hotel.

Duduk pada sebuah kursi di depan meja kecil, Isti menikmati tingkah gorden yang malu-malu pada kenakalan angin, namun lambainya menandakan perasaan senang oleh tiupannya yang agak kencang itu. Ah, mungkin bagi gorden, sang angin seperti kenakalan suaminya yang kadang-kadang diharapkannya. Dan ia pun akan menjauh berpura-pura marah, lalu mendekat manja bila sang suami mulai membujuk dirinya dengan ciuman hangatnya bertubi-tubi. Ingatannya yang melayang jauh ke rumahnya terpaksa harus mendarat oleh teriakan Atin teman sekamarnya. “Ikut ngga?” suara Atin dari luar kamar . “Malas, ah” sahut Isti sambil menyungingkan senyum manisnya, demi menolak ajakan teman yang berasal dari kota yang sama dengan dirinya dalam kegiatan yang mengharuskan mereka menginap di hotel itu.

Pagi itu sebenarnya merupakan kesempatan bagi Isti dan peserta diklat yang lain untuk bisa menikmati jalan-jalan berkeliling hotel yang berkonsep resort itu atau sekedar menikmati suasana pagi di Kota Malang, karena hari itu adalah hari pertama di hotel setelah mereka tiba kemarin. Jadwal kegiatan yang terpampang demikian padat baru akan dimulai agak siang setelah mereka makan pagi.

Tidur di kamar hotel, memang baru pertama kali Isti alami seumur hidupnya. Lebih-lebih di hotel berbintang 4 seperti ini. Mengakrabkan pandangan matanya ke seluruh penjuru kamar yang ia tempati saja membutuhkan waktu sampai ratusan detik hingga puluhan menit. Setiap detail desain kamar itu membuat Isti takjub. Pikirannya melayang pada orang-orang yang berkantong tebal, berkendaraan mewah, yang kerjanya bersafari dari hotel ke hotel. Konon sewa satu kamar hotel yang diperuntukkan para peserta diklat seperti Isti dan kawan-kawannya mencapai lebih dari setengah juta rupiah semalam. Angka yang cukup fantastis bagi kaum golongan menengah seperti dirinya.

“Hemmmm…..dingiinnnn” sambil beranjak wanita berambut ikal sebahu itu bergumam, bibirnya merapat karena hawa dingin yang merasuk pada tulang. Meski tubuhnya yang masih terjaga kelangsingannya itu telah terbungkus rapat dengan kaos biru laut berlegan panjang. Kakinya melangkah menuju ke kamar mandi. Pagi itu acara pembukaan diklat akan dimulai pukul delapan. Jadi masih tersedia cukup waktu untuk mengguyur tubuhnya dan berdandan sepatutnya untuk kemudian menuju ke ruang makan hotel.
*******
Senyum dan sapa, pagi itu terobral begitu murah di ruang makan hotel yang mewah. Seperti sebuah keharusan, setiap peserta diklat yang berjumlah 60 orang itu berusaha mengakrabkan diri dengan para peserta yang berasal dari berbagai daerah atau pun kabupaten yang berbeda. Mungkin karena merasa senasib seperjuangan. Memenuhi panggilan tugas pada profesi yang mereka tekuni sebagai ladang mengais sebutir nasi. Wajah- wajah para peserta diklat memang sudah tampak berbeda dari tampilan mereka kemarin ketika baru tiba di hotel dari kota masing-masing. Setelah beristirahat semalam di kasur empuk, ruang ber-AC, berendam dengan air hangat di bath up serta berbagai suguhan yang disajikan pada mini bar di dalam kamar mungkin telah memulihkan kesegaran mereka.

Mengenakan kerudung berwarna coklat susu dikombinasikan dengan rok berwarna senada dan blus semi resmi berbunga-bunga kecil, Isti nampak begitu anggun. Wajahnya yang memang sudah manis dari cetakan Sang Pencipta semakin bertambah manis dengan senyum yang menghias bibirnya setiap bertemu dengan sesama peserta diklat.

Atin menarik tangan Isti untuk mencicipi salad sebagai makanan pembuka. Sampai di meja bulat yang menyajikan beragam jenis salad, Isti mengerutkan kening. “Makanan apaan?” tanyanya lirih, sangat lirih hingga lebih tepat disebut berbisik. Takut bila ada yang mendengar kalau dirinya begitu asing dengan sajian makanan hotel berbintang 4 tersebut. Maklum baru kali pertama menginjakkan kaki di hotel berkelas semacam itu. Rasa asing dengan berbagai kebiasaan yang berbeda dari kebiasaan di rumah membuat perasaan takut salah bersikap. Salah-salah nanti jadi bahan ketawaan orang, pikiran itu yang menyelimuti benak Isti.

Akhirnya mereka mengambil makanan dengan menu yang berbeda. Isti berbalik ke meja makan utama, mengambil nasi goreng dan memilih lauk yang dia sukai. Sementara Atin lebih memilih makanan dari umbi-umbian yang tersaji di meja paling sudut, karena takut tubuhnya yang sudah demikian subur menjadi bertambah melar.

Belum lama mengobrol setelah selesai sarapan, pemberitahuan bergema dari speaker di sudut-sudut langit ruang makan agar para peserta diklat untuk segera menuju ruang sesion. Isti dan beberapa peserta segera meninggalkan ruangan yang paling digemari oleh pengunjung hotel. Hanya beberapa gelintir orang saja yang masih tetap asyik menikmati hidangan atau sekedar ngobrol di ruang itu. Mungkin mereka bukan peserta diklat, tapi para pelancong yang kebingungan untuk menghabiskan uang yang sudah berlebih di kantongnya.

********
Seremonial acara pembukaan dilanjutkan dengan kegiatan diklat berlangsung begitu cepat dirasakan Isti. Tidak seperti kebanyakan peserta diklat yang sering dihinggapi rasa jenuh, Isti begitu enjoy mengikuti sesi demi sesi. Harapannya, sepulang dari kegiatan ini dia akan mengantongi ilmu baru yang dapat ia bagikan kepada rekan-rekan sekantornya demi meningkatkan keprofesionalan di bidang tugasnya.

Sampai akhirnya di hari yang ke lima, Isti merasakan ada sepasang mata yang selalu memperhatikannya. “Masa Bodoh, ah….mata itu kan matanya. Dia mau perhatiin apa aja..itu adalah haknya. Toh tidak ada yang berkurang dari dirinya karena tatapan mata lelaki itu”, begitu pikir Isti untuk mengurangi ketidaknyamanan karena begitu intensifnya diperhatikan meski hanya pada sebatas memandang saja. Meskipun sebenarnya ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya tiba-tiba begitu resah oleh tatapan itu. Seperti mengulang getaran yang sama yang pernah ia rasakan pada waktu yang tak bisa ia ingat lagi….very-very so long time ago…..

Namun…….., gila…pemilik mata itu kini berjalan mendekatinya ketika mereka sedang menikmati maksi di siang yang mendung itu.

BERSAMBUNG………………sabar ya…..